Baturaja, Pada hari Jum’at (11/08) Kereta Api Logistik Mulai Angkut Semen Baturaja. Penandatanganan kontrak telah dilakukan pada akhir Juli 2017.Baturaja – Tanpa perlu menunggu lama, tepatnya sepuluh hari sejak kontrak ditandatangani, pemberangkatan perdana kereta api pengangkut Semen Baturaja mulai dilakukan.

Pemberangkatan dimulai dari Stasiun Tiga Gajah di Baturaja, Sumatera Selatan, Jumat, 11 Agustus 2017.

Sebelumnya, Penandatangan kontrak dilakukan langsung oleh Direktur Utama PT Semen Baturaja (PERSERO) TBK, Rahmad Pribadi, dan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Kereta Api Logistik (KALOG), Junaidi Nasution, di Kantor Pusat KALOG, Jakarta, Senin, 31 Juli 2017.

Sekretaris Perusahaan (Corporate Secretary) Semen Baturaja, Rum Hendarmin, di Stasiun Tiga Gajah, Baturaja, mengatakan pada perjalanan perdana kali ini, kereta pengangkut akan menempuh rute dari Baturaja ke Lubuk Linggau. “Sejauh 322 kilometer,” katanya.

Rum mengemukakan kerja sama angkutan semen menggunakan kereta api bertujuan untuk mempertahankan posisi strategis Semen Baturaja di wilayah Sumatera Selatan dan Lampung. Total volume angkutan semen melalui kereta api menurut Rum jumlahnya akan mencapai 5000 Metrik Ton (MT) per hari. “Dengan total volume sebesar 1,75 juta MT per tahun,” ujarnya.

Kereta api menurut Rum akan menjadi transportasi utama angkutan Semen Baturaja. Dia mengutarakan rute, jarak tempuh dan target operasi yang hendak dicapai dalam kerja sama dengan KALOG sebagai berikut :

  1. Baturaja-Palembang (Sumatera Selatan)
    Jarak tempuh: 170 km
    Target operasi: Agustus 2017.
  2. Baturaja-Lubuk Linggau (Sumatera Selatan)
    Jarak tempuh: 322 km
    Target Operasi: Agustus-September 2017
  3. Baturaja – Tegineneng (Lampung)
    Jarak tempuh: 191 km
    Target operasi: Agustus 2017, sebagai hub distribusi November 2017
  4. Baturaja-Panjang (Lampung)
    Jarak tempuh: 227 km
    Target operasi: Agustus 2017.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Semen Baturaja, Rahmad Pribadi menekankan perubahan moda transportasi dari truk ke kereta api dilakukan karena penggunaan kereta api sebagai angkutan semen jauh lebih ekonomis dibanding menggunakan truk. “Selisih biayanya hampir mencapai 30 persen,” katanya.

Selain lebih murah, Rahmad mengingatkan jika angkutan kereta api lebih dapat diandalkan (reliabel) dibanding menggunakan truk karena waktu keberangkatan dan kedatangan lebih mudah diperkirakan.

Namun, Rahmad mengatakan semen akan tetap diangkut menggunakan truk setelah selesai diangkut menggunakan kereta api sehingga para pengusaha angkutan truk tidak perlu khawatir.

Rahmad juga mengharapkan sinergi dengan KALOG tidak hanya berhenti pada angkutan semen saja. Lelaki yang meraih gelar Master di Harvard University, Amerika Serikat, tersebut berujar jika ke depan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinahkodainya juga akan membangun pusat distribusi (distribution center) dengan melibatkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sekaligus KALOG sebagai anak perusahaan PT KAI.

Rahmad mengutarakan kemungkinan besar pusat distribusi akan berada berdampingan dengan stasiun kereta api. “ Jika tidak berdampingan, minimal berdekatan,” ujarnya. (Humas & Sekper SMBR)